Kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai Negative Budgeter dalam Pengujian Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

Mei Susanto

Abstract


Doktrin Mahkamah Konstitusi (MK) yang dahulu dipercaya hanya sebagai negative legislature telah bergeser menjadi positive legislature. Menjadi pertanyaan, apakah doktrin MK sebagai negative legislature maupun positive legislature, dapat pula dimaknai sebagai negative budgeter dan positive budgeter dalam pengujian Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN). Berdasarkan hasil kajian konseptual dan pendalaman terhadap beberapa putusan MK dalam pengujian UU APBN, secara nyata dan dalam keadaan tertentu, doktrin MK sebagai negative legislature dapat dimaknai sebagai negative budgeter dalam bentuk pernyataan mata anggaran tertentu dalam UU APBN bertentangan dengan UUD 1945. Bahkan dapat pula dimaknai sebagai positive budgeter karena MK juga mengharuskan pemerintah dan DPR untuk menambahkan mata anggaran tertentu dalam UU APBN. Hal tersebut tidak lain sebagai bentuk diakuinya supremasi konstitusi, sehingga MK yang berperan sebagai the guardian constitution harus menjaganya. Apalagi dalam UUD 1945 terdapat pasal yang spesifik menyebut batas minimal anggaran pendidikan 20% dan pasal-pasal lain yang mengharuskan APBN harus dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

The doctrine of the Constitutional Court which was previously believed to be only as a negative legislature has shifted into positive legislature. The question, is the doctrine of the Constitutional Court as a negative legislature and a positive legislature can also be interpreted as a negative budgeter and a positive budgeter in the judicial review of the State Budget Law. Based on the result of conceptual study and deepening of several decisions of the Constitutional Court in the judicial review of the State Budget Law, in real and in certain circumtances, the doctrine of the Constitutional Court as a negative lagislature can be also interpreted as a negative budgetary in the form of specific budget items in the State Budget Law contradictory to the 1945 Constitution. Also as a positive budgeter because the Constitutional Court requires the executive and the legislative to add a specific budget in the State Budget Law. It is a form of recognition of constitutional supremacy, so that the Constitutional Court can role as the guardian constitution. Moreover in the 1945 Constitution there is a specific article that mentions the minimum limit of 20% education budget and other articles that require the state budget should be used for the greatest prosperity of the people.


Keywords


Mahkamah Konstitusi; Pengujian UU APBN; Negative Budgeter; Positive Budgeter

References


Buku

Arifin P. Soeria Atmadja, 1986, Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan Negara Suatu Tinjauan Yuridis, Jakarta: Gramedia.

Bagir Manan, 2003, DPR, DPD, MPR dalam UUD 1945 Baru, Yogyakarta: FH UII ress.

Dian Puji N. Simatupang, 2011, Paradoks Rasionalitas Perluasan Ruang Lingkup Keuangan Negara dan Implikasinya terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah, Jakarta: Badan Penerbit FH UI.

Hans Kelsen, 2006, General Theory of Law and State, with a new introduction by A. Javier Trevinno, New Brunswick (USA) and London (UK): Transaction Publisher.

Jimly Asshiddiqie, 2006, Perihal Undang-Undang, Jakarta: Setjen dan Kepaniteraan MKRI.

_________, 2006, Hukum Acara Pengujian Undang-Undang, Jakarta, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI.

_________, 2008, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Madison, 1961, Federalist Paper Number LVIII, dalam Publius, The Federalist Papers, New York: New American Library.

Maria Farida Indrati S, 2007, Ilmu perundang-undangan (Jenis, Fungsi dan Materi Muatan), Buku Ke-1, Yogyakarta: Kanisius.

Martitah, 2013, Mahkamah Konstitusi: Dari Negative Legislature ke Positive Legislature, Jakarta: Konstitusi Press (Konpress).

Mei Susanto, 2013, Hak Budget Parlemen di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika.

Saldi Isra, 2010, Pergeseran Fungsi Legislasi (Menguatnya Model Legislasi Parlementer Dalam Sistem Presidensial Indonesia), Jakarta: Rajawali Pers.

Sri Soemantri, 1997, Hak Uji Material di Indonesia, Bandung: IKAPI.

Warren, Harris G. dkk, 1963, Our Democracy at Work, New York: Prentice-Hall, Engelwoods Cliffs.

Jurnal dan Artikel Lainnya

Bojan Bugaric, 2001, "Courts as Policy-Makers: Lessons from Transition", 42nd Harvard International Law Journals, Vol. 42, No. 1, h. 247-288.

G. Gregg Webb dan Keith E. Whittington, 2004, "Judicial Independence, The Power of the Purse, and Inherent Judicial Powers", Jucicature, Vol. 88, No. 1, h. 12-45.

Gerald E. Frug, 1978, "The Judicial Power of The Purse", University of Pennsylvania Law Review, Vol. 126, No. 4, h. 715-794.

Mauro Cappelletti, 1970, "Judicial Review in Comparative Perspective", California Law Review, Volume 58, No. 5, h. 1017-1053.

Ian Lienert dan Moo-Kyung Jung, 2004, "The Legal Framework for Budget Systems, an International Comparison", OECD Journal on Budgeting, Vol. 4 No. 3, h. 1-479.

Pan Mohamad Faiz, 2016, Relevansi Doktrin Negative Legislator, Majalah Konstitusi, No. 108, dalam https://panmohamadfaiz.com/2016/03/17/relevansi-doktrinnegative-legislator/ diakses 24 September

Saldi Isra, 2016, Negative Legislator, http://www.saldiisra.web.id/index.php/21-makalah/makalah1/302-negative-legislator.html, diakses 20 September Peraturan Perundang-undangan

UUD NRI Tahun 1945

UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234).

Putusan Pengadilan

Putusan MK No. 012/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No. 36 Tahun 2004 tentang APBN 2005.

Putusan MK No. 026/PUU-III/2005 tentang Pengujian UU No. 12 Tahun 2005 tentang APBN 2006.

Putusan MK No. 26/PUU-IV/2006 tentang Pengujian UU No. 18 Tahun 2006 tentang APBN 2007.

Putusan MK No. 024/PUU-V/2007 tentang Pengujian UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 18 Tahun 2006 tentang APBN 2007.

Putusan MK No. 09/PUU-VI/2008 tentang Pengujian UU No. 45 Tahun 2007 tentang APBN 2008.

Putusan MK No. 13/PUU-VI/2008 tentang Pengujian UU No. 16 Tahun 2008 tentang APBNP 2008.

Putusan MK No. 138/PUU-VII/2009 tentang Pengujian Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Putusan MK No. 57/PUU-VIII/2010 tentang Pengujian UU No. 2 Tahun 2010 tentang APBNP 2010.

Putusan MK No. 60/PUU-IX/2011 tentang Pengujian UU No. 10 Tahun 2010 tentang APBN 2011 juncto UU No. 11 Tahun 2011 tentang APBNP 2011.

Putusan MK No. 13/PUU-X/2012, 42/PUU-X/2012, 43/PUU-X/2012, dan 46/PUU-X/2012 tentang Pengujian UU No. 4 Tahun 2012 tentang APBNP 2012.

Putusan MK No. 53/PUU-X/2012 tentang Pengujian UU No. 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012.

Putusan MK No. 58/PUU-X/2012 tentang Pengujian UU No. 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012 dan UU No. 4 Tahun 2012 tentang APBNP 2012.

Putusan MK No. 83/PUU-XI/2013 tentang Pengujian UU No. 15 Tahun 2013 tentang APBNP 2013.

Putusan MK No. 115/PUU/XII/2014, 132/PUU-XII/2014, 23/PUU-XIII/2015 tentang Pengujian UU No. 27 Tahun 2014 tentang APBN 2015.

Putusan MK No. 63/PUU-XIII/2015 dan 91/PUU-XIII/2015 tentang Pengujian UU No. 3 Tahun 2015 tentang APBNP 2015.




DOI: https://doi.org/10.31078/jk1442

Refbacks

  • There are currently no refbacks.